Perdagangan Bukan Milik China tapi Milik Orang Aceh

 

Ist. Pixabay

"China tidak punya produk berkualitas produk China bagah reuloh, seperti Fashion misalnya, kebanyakan yang bagus adalah produk Filipina, Usa. Sedangkan ia hanya memenej bon atau faktur dengan kekuatan Militernya,"

Aku tidak setuju perdagangan, dan Indonesia dikuasai China. Karena China tidak memiliki apa-apa kecuali hanya kekuatan Militer. Selebihnya, kecantikan gadis dan kemulusan kulit putihnya untuk memikat para lelaki, seperti para saudagar di Aceh, atau lelaki hidung belang yang kerap lupa dengan rahim perempuan.

Memang, vagina perempuan dan kecantikan wanita akan selalu menggoda dan meruntuhkan dunia, termasuk kekuasaan, “Got Nanggroe meunjoe Got Inong, reuloh nanggroe meunjoe reuloh inong,” begitulah falsafah yang berlaku dalam masyarakat Aceh. 

Sejatinya, segala sesuatu yang menyangkut persoalan perempuan memang rumit dipikirkan lelaki, pun sebaliknya segala sesuatu yang menyangkut lelaki sulit dipikirkan perempuan, apalagi masalah perasaan dan cinta memang sangat rumit, namun jika ditelaah lebih lanjut sebenarnya tidak rumit hanya perasaan suka dan perasaan yang tak berani diungkapkan menjadi bumerang bagi hati, dan merusak mata akan pemandangan suatu kecantikan dan keindahan yang dimiliki oleh makhluk bernama manusia.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa persoalan menyangkut perempuan tidaklah rumit, tapi lebih rumit persoalan lelaki yang kerap menutup perasaan hatinya untuk perempuan yang dicintai, "ungkapkan saja, soal ditolak biar dukun yang bertindak, agar perdagangan tidak rusak,"

Alkisah Habil dan Qabil menjadi bukti bahwa salah satu persoalan manusia yang paling rumit adalah rasa sukanya terhadap perempuan bernama Iklima. Persoalan ini menjadi dilema bagi anak keturunan Adam, hingga tumpah darah. 

Tetapi, jika dikaji lebih detail agar persoalan tersebut dapat dipecahkan, supaya tidak terjadinya masalah, maka hendaklah kita bercermin bahwa hidup di dunia ini persoalan keselamatan nyawa dengan membangun cinta lebih penting.

Disebabkan perempuan, maka tak jarang lelaki menjadi pelarian dalam hidupnya. Baik lelaki berdarah keturunan China, maupun wanita berkulit hitam. Perbedaan warna kulit dalam kehidupan manusia baik dari Negro, maupun Hindia selalu menjadi tolak ukur yang perlu diketahui agar manusia tidak tersesat dalam menterjemahkan masalah, hingga masalah berakibat fatal, hingga kerugian perdagangan, kekacauan politik, dan hancurnya agama.

Di Aceh, keturunan umat Islam terdahulu sebelum Masehi telah dibuktikan menjadi sebuah peradaban penting yang harus diingat. Aceh merupakan taman surga bagi Umat Manusia di dunia ini. Buktinya nyata tersebut diperkuat oleh dalil adanya kehidupan tradisi manusia yang masih mencintai sesama makhluk Tuhan, termasuk pohon dan binatang ternak.

Sebagaimana tercatat dalam beberapa kategori penyimpangan kasus terlepas dari kehidupan primitif manusia yang kerap melontarkan diri dalam kehidupan bunuh diri, menuntut kehidupan lebih nyata dan terang.

Dalam hal itu, China menurut amatan saya juga menuntut hal lebih serupa Cinta untuk merubah keturunan mereka dari mata sipit menjadi lelaki perkasa, atau wanita elok nan jelita. Seorang teman saya Attak, ia seorang photografer studio, menjelaskan bahwa keinginan China selalu berupaya menjadi lelaki perkasa. 

Tidak semua China dari garis keturunanya terbilang kekar, akan tetapi lebih cenderung kepada homoseksualitas yang menyerang kehidupan manusia, pada suatu ketika di zaman Luth. Jelas, bahwa kehidupan China yang mencari kebenaran hidup sebagai manusia yang memiliki kodrat cinta nan utuh, seperti memiliki penyimpangan diluar kaedah. Yang sebenarnya norma yang hakiki hidupnya manusia, menjadi manusia.

Maka, wajar kalau China menguasai segala lini kehidupan, termasuk di Aceh untuk melihat dunia, menuntut keadilan hak sebagai manusia yang dicintai, layaknya kecantikan yang dicintai oleh manusia di Hindia, kecantikan yang menggoda, dan gairah cinta yang membuncah bergelora. Bukankah wajah Hindia itu cantik, dan menggairahkan selera dan birahi nafsu seorang pria. Dari situlah, saya berpikir saya sendiri memiliki rasa cinta dan perasaan yang mendalam terhadap wajah-wajah orang Hindia.

Saya sendiri kerap sekali menonton film Hindia, dan mengatakan pada diri saya sendiri, kalau saya akan mencintai mereka, perempuan-perempuan mereka, gadis-gadis mereka, dan saya akan berbagi perasaan kasih dengan mereka, cinta mereka, dan kasih sayang dengan mereka, bahkan sampai sekarang aku masih menyukai mereka. 

Tak jarang, aku pernah bermimpi mencintai Pretty Sinta sebagai pendamping hidup dan keturunan daripada mereka. Aku tidak berpikir mencintai gadis Palestina, atau wanita Turki. Tapi, aku lebih kepada Hindia. 

Hari ini dan detik ini, saya tidak percaya bahwa orang rumah saya blesteran China. Matanya, sipit, dan hidungnya tidak pesek-pesek amat. Dari wajahnya, aku dapat menebak bahwa ia adalah wanita dari garis keturunan China yang telah dan sedang kucintai.

Nah, tinggalkan cerita di atas. Mari kita kembali ke perdagangan. Selama masa pandemi, ekonomi mencapai tingkat Resesi, bos-bos terpaksa kawin lain, karena dililit hutang. Sampai keuangan dan pendapatan menurun. Daya serap konsumtif berimbas pada faktor perdagangan. Bos-bos pengusaha bangkrut. Jadi, jalan keluarnya adalah China bukan pemilik perdagangan, tapi orang Aceh. Hanya saja, kekuatan Militer berkuasa, tapi kekuasaan teks dan bahasa adalah kekuatan yang paling muskil selain senjata. 

Maka, terus terang aku tidak setuju bahwa kalau perdagangan ini mesti dikuasai orang China, karena sebagai orang Aceh, saya tidak sanggup membendung kekuatan politik dagang antara keduanya, yaitu Hindia dan China yang saling menghantam ekonomi Islam satu sama lain.

China dan Hindia selalu bekerja sama untuk menghancurkan ekonomi, karena persoalan cinta. Dan, Amerika menjadi korban politik dagang antara mereka.[]

0 Response to "Perdagangan Bukan Milik China tapi Milik Orang Aceh"

Posting Komentar