Pengertian Islam dan Latar Belakang

LATAR BELAKANG ISLAM

Ist. Net
Islam adalah agama suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Muhammad lahir di Mekkah. Tanggal kelahiran Nabi Muhammad, saw. telah umum diketahui umat islam sebagai hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dalam perhitungan kalender qomariyah. Abunya bernama Abdullah Bin Abdul Muthallib. Dan Ibunya bernama Aminah.

Ada sebuah peristiwa yang menarik pada tahun kelahiran Nabi Muhammad Saw. Yaitu tragedi tentera Abrahah menyerang Kakbah. Kakbah merupakan kiblatnya umat Islam sedunia. Pada waktu itu tentara yang dipimpin Abrahah ingin menyerang Kakbah, namun tentera Allah berupa burung ababil sanggup membelanya, dengan melemparkan batu-batu dari neraka. Para tentera Abrahah, terpaksa angkat kaki dari Mekkah.

Ada pun di samping itu, kelahiran Nabi Muhammad telah menjadi pertanda-tanda bagi keberlangsungan umat manusia. Di mana kala itu seorang pendeta telah mencium aroma kelahiran Nabi Muhammad Saw. Ia mengatakan ke pada kakek Nabi, bahwa dialah Nabi masa depan yang akan memimpin umat manusia. Sebelum kelahiran Nabi Muhammad terdapat berbagai macam agama tak jelas, sehingga kehidupan manusia amburadul kala itu. Dengan lahirnya Rasul mulia, maka ia membuat revolusi umat manusia sehingga terjadilah perubahan di semenanjung Arab Saudi.

AHLI TAUHID PADA MASA JAHILIYYAH

Di antara para penyembah berhala terdapat sebagian orang yang telah mendapat petunjuk Ilahi untuk meninggalkan kebiasaan kaummnya itu, kemudian melangkah ke arah tauhid Allah Swt. Di antara mereka adalah Zaid ibn ‘Amru ibn Nufail. Ia penyembah berhala, lalu meninggalkannya, seraya berkata, “Aku telah meninggalkan Lata dan Uzza semuanya,serta yang dilakukan oleh orang yang tahu (kesesatannya). Aku tidak menganut agama Uzza, begitu pula pada kedua anaknya. Tidak pula mengunjungi dua berhala Banu Ghanam. Tidak pula mengunjungi Habal yang dahulu menjadi Tuhan kami di masa kehancuran, akrena hasratku rendah.”

AKIDAH PENGANUT ANIMISME SEBELUM ISLAM

Jika kita perhatikan kepercayaan manusia di seluruh dunia, maka kebanyakan mereka melupakan Allah Swt. Dan menyembanh sesembahan yang lain. Sebagaian penganut agama Hindu menyembah matahari. Mereka menganggap bahwa matahari adalah malaikat, dan ia memiliki jiwa serta akal, karena matahari adalah sumber cahaya bintang. Dan, cahaya semua mahkluk berasal darinya. Oleh sebab itu, matahari berhak diagungkan dan disembah dan hendaklah berdoa kepadanya.

 Mereka telah menjadikannya sebagai Tuhan, di tangannya terdapat mutiara berwarna api. Lalu, mereka membangun sebuah rumah khusus untuknya, mereka menaburkan mewangian, menghiasinya dengan tirai dan tiang-tiang. Mereka melakukan sembahyang di dalam rumah itu tiga kali sehari.

Yang datang ke rumah itu adalah orang yang mempunyai hajat atau orang sakit, lalu mereka berdoa, memohon kesembuhan dengan keberkahannya. Mereka pun berpuasa untuk matahari.

Selain matahari, mereka juga melakukan rutinitas ini kepada semua bintang yang mengambil cahaya dari matahari. Dengan demikian, mereka tidak membatas rububiyah (ketuhanan) pada matahari saja, tetapi mereka juga berbuat syirik dengan menyembah bintang, selain menyembah matahari.

Selain itu, mereka pun membuat berhala unta untuk memuja bulan, dan di tangannya tergenggam perhiasan. Mereka menggantungkan nasib padanya sebagaimana mereka menggantungkan nasib pada matahari, seperti matangnya buah-buahan.

Di antara aktivitas keagamaan, mereka menyembah bulan, berpuasa separuh bukan Masehi kedua, dan mereka tidka berbuka sampai bulan muncul. Kemudian, mereka mendatangi berhala dengan membawa makanan, minuman, atau susu. Mereka berharap agar ia memenuhi segala kebutuhan mereka, lalu mereka menatap ke bulan yang menjadi simbol berhala ini. Lantas, mereka menyebutkan apa yang menjadi kebutuhan.

Pada saat bulan purnama mereka ke atap rumah dan menyalakan api, lalu berdoa. Kemudian, mereka turun kembali untuk menikmati makanan, minuman, pesta, berekspresi melihat bulan sesembahan mereka. Dengan demikian mereka memiliki sesembahan selain bintang.

Doktor Ahmad Husein berkata dalam bukunya al-imam wal islam (imam dan islam), halaman 84, bahwa kitab-kitab suci umat Hindu berbicara tentang jumlah Tuhan mereka yang mencapai 330 ribu, dan kadang kala disebutkan 333 saja. Kemudian, mereka bertolak ke Tuhan yang ESA yang tidak menyerupai ini dan itu. Dia bersifat absolut. Dia adalah buah pemikiran sang Pencipta jagad dalam jiwanya. Dia kekal yang tidak bergerak dan tidak mungkin diketahui identitasnya, karena dia lebih tinggi dari semua gambaran (prediksi), dan di atas semua pengetahuan. Dia tidak berbicara dengan kata-kata dan tidak berpikir dengan khayalan atau pun angan-angan. Dia tidak terlihat oleh dua mata, tidak bisa didengar oleh kedua telinga, dan tidak bernapas  seperti isak keledai. Dia adalah zat yang jauh dari unsur-unsur keburukan. Dia tidak pernah piku. Dia Maha hidup kekal. Dia tidak pernah merasakan lapar atau haus, dan tidak pernah merasa sedih. Dia lah yang menuntut manusia agar mengetahui-Nya, Dia lah BRAHMA.

Menurut kami, karakterisktik Tuhan Yang ESA Tersebut di atas sesuai dengan Islam, walau pun berbeda istilah. Islam memuliakan Allah swt, sedangkan mereka memuliakan Brahma, dan perbedaan ungkapan lainnya.

AGAMA-AGAMA SAMAWI SEBELUM ISLAM

 Adapun agama-agama samawi yang ada sebelum Islam adalah Yahudi dan Nasrani. Penganut kedua agama ini mengakui bahwa Allah Swt adalah Pencipta dan Pemberi rezeki, yang maha menghidupkan lagi mematikan. Mereka yakin bahwa Allah Swt, dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Isa adalah putra Allah Swt, Menurut mereka, Tuhan telah merasuk ke dalam jiwa manusia dan turun ke bumi, lalu memberi titah kepada manusia. Kaum Yahudi berbeda pandangan dengan umat Nasrani dalam konsep trinitas. Umat Nasrani mengatakan bahwa Allah Swt adalah Tuhan ketiga dari tiga Tuhan. Adapun umat Yahudi tidak berpendapat demikian.

 LAHIRNYA MUHAMMAD SAW

Tanggal kelahiran Nabi Muhammad, saw. telah umum diketahui umat islam sebagai hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah dalam perhitungan kalender qomariyah. Nabi Muhammad adalah utusan Allah Swt. Ia semenjak kecil sudah yatim piatu. Ia disusui Halimatussakdiah. Semasa kecil, ia hidup sebagai pengembala, pedagang, dan sampai ia diangkat menjadi Rasul. keresahan dirasakan atas perilaku dan perbuatan yang dilakukan oleh bangsa Arab yang jauh dari nilai Kebenaran. Selanjutnya Nabi Muhammad saw mengasingkan diri (uzlah) di Gua Hira. Kegiatan menyendiri atau uzlah ini dilakukan berulang kali oleh Nabi Muhammad saw, dan tepat pada tanggal 17 Ramadhan saat nabi Muhammad usia 40 tahun, beliau didatangi oleh Malaikat Jibril dan menerima wahyu yang pertama yaitu Qur’an Surat al ‘Alaq ayat 1 sampai dengan 5.

Wahyu Pertama turun Al-‘Ayat 1-5

Berikut bunyi dan tulisan arab latin serta terjemah surat al ‘Alaq ayat 1 – 5

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

iqra` bismi rabbikallażī khalaq

Terjemah Arti: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

khalaqal-insāna min ‘alaq

Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

iqra` wa rabbukal-akram

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

allażī ‘allama bil-qalam

Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

 

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

allamal-insāna mā lam ya’lam

Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Keberadaan turunnya Wahyu pertama (Q.S Al ‘Alaq ayat 1-5) inilah yang menandakan bahwa Nabi Muhammad saw. dipilih dan diangkat Allah Swt. untuk menjadi utusan-Nya atau Rasul, sebagaimana dikutip dari Potren.com.

PENOPANG MASYARAKAT ISLAM

Setiap bangunan harus mempunyai tonggak dan pondasi yang kokoh. Jika pondasi itu kuat, maka bangunan tersebut pun akan kuat dan kokoh. Tidak akan cepat dimakan zaman, dan tidak roboh akibat peristiwa alam, kecuali jika dikehendaki oleh Allah Swt.

Umat Islam adalah sebaik-baik umat, karean bertopangkan pada asas-asas- yang terdapat dalam Al-Qur’an. Zaman tidak mampu menghancurkannya. Umat Islam tidak tergoyahkan oleh peristiwa alam, selama masyarakatnya berpegang pada asas-asas yang diridhai oleh Allah Swt.

Alquran memuat beberapa pondasi kokoh yang harus ditempuh oleh negara yang berpenduduk muslim. Di antaranya pondasi untuk landasan akidah, landasan untuk ibadah kepada Tuha, serta landasan yang membangun moral dan etika masyarakatnya. Di antara ayat yang paling lengkap merangkum asas-asas ini adalah firman Allah Swt, “sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemunkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kami dapat mengambil pelajaran.”

Intisari ayat tersebut meruapakan karakteristik bagi keluhuran moral umat serta kemuliaan budi pekerti. Diriwayatkan dari Mawardi dan Abu Nu’aim, dari Abdul Malik ibn Umair ia berkata, “Aktsam ibn Shifi tiba di pintu rumah Rasulullah saw, untuk menemui Beliau, akan tetapi kaumnya mencegahnya. Lalu, dua orang lelaki keluar dan mengajaknya menemui Rasulullah saw. Lantas, mereka menghadap beliau, seraya berkata, “Kami adalah utusan Aktsam bermaksud ingin bertanya kepadamu, ‘siapakah engaku, dan apa tujuan kedatanganmu?’ Beliau menjawab, ‘saya adalah Muahmmad ibn Abdullah, hamba dan utusan Allah Swt.’ Lalu beliau membaca firman Allah, “sesungguhnya Allah menyuruh  (kamu) berlaku adil....”, lalu keduanya berkata, ‘Ulangilah bacaaan itu,’ lalu beliau mengulangi kembali sehingga mereka berdua hafal ayat ini.

Kemudian, mereka mendatangi Aktsam ibn Shaifi untuk memberitahukan percakapan mereka bersama Rasulullah. Tatkala ia mendengar ayat itu, seraya berkata, ‘Bahwasanya saya melihatnya memerintahkan melakukan kemuliaan akhlak dan melarang berakhlak buruk, maka jadilah kalian pemimpin (untuk melaksanakan) perintah ini dan janganlah kalian menjadi ujung cemeti.”

            Diriwayatkan bahwa kedua orang ini berkata kepada Aktsam, “Muhammad menolak untuk menyebutkan keturunannya, lalu kami mendapatinya berasal dari keturunan yang suci.”

            Selain itu, ayat ini menyebabakn keimanan Utsman ibn Madgun dan rasa cintanya kepada Nabi saw semakin kuat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Thabrani dan Bukhari dalam Al-Adab.

Ayat ini merupakan induk segala kebajikan yang mencakup seluruh cabang-cabangnya. Khalifah Umar ibn Abdul Aziz menempatkan ayat ini pada bagian akhir khutbah sebagai ganti dari kebiasaan para khatib Bani Umayyah yang selalu mencaci Imam Ali di setiap akhir khutbah mereka. Caci maki ini akibat permusuhan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Itu merupakan salah satu pengaruh Umar ibn Andul Aziz r.a. Dengan ketetapan ini, berakhirlah tindakan kejahatan tersebut.

Sebagian ulama mengatakan bahwa keberadaan ayat ini menjadi pelengkap status al-Quran sebagai penjelasan segala sesuatu, petunjuk, dan rahmat. Oleh sebab itu Allah Swt menempatkan ayat tersebut setelah ayat : “Dan kami turunkan kepadamu al-kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

            BUKTI KEBENARAN RISALAH MUHAMMAD (AL-QURAN)

Sebelum kami berbicara tentang pesan-pesan risalah Muhammad saw, kami katakan bahwa setiap nabi mempunyai mukjizat sebagai bukti bahwa ia adalah pemegang tugas menyampaikan perintah dari Allah Swt kepada umatnya,

Akan tetapi mukjizat-mukjizat tersebut bersifat temporal yang berakhir seiring dengan kehancuran umatnya. Dan setelah itu, setiap umat atau generasi dapat menyakini kebenaran mukjizatnya, dan ada pula yang mengklaim bahwa itu adalah sihir.

Khusus bagi Nabi Muhammad saw, Allah swt telah memberikan keistimewaan kepedanya berupa al-Quran adalah mukjizat yang kekal sepanjang masa, dan orang yang berakal tidak pernah melemparkan cacian dengan sebutan sihir.

Adapun klaim kaum musyrik bahwa al-Quran itu sihit adalah keliru. Al-quran bukanlah sihir, melainkan merupakan perintah bagi orang berakal untuk menggali kandungan risalah Muhammad saw yang berisi tentang tauhid dan keagungan sifat-Nya, yang paling berhak untuk disembah dan investasi amal untuk kemaslahatan di akhirat.

Bukti kekeliruan mereka, bahwa setelah mensifati al-quran dengan sihir, mereka langsung mengklaim bahwa al-quran hanyalah perkataan manusia (Muhammad). Dalam al-quran AllahSwt menceritakan kelakuan mereka ketika mendengar al-quran : “lalu dia berkata: ‘(Alquran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang terdahulu). Ini tak lain hanyalah perkataan manusia’.

Dan selain mereka mengklaim bahwa alquran adalah ucapan manusia, di antarnya mereka mengklaim bahwa alquran adalah syair dan kebohongan-kebohongan belaka. Klaim-klaim antar mereka terhadap al-quran ini berbeda-beda. Ini menunjukkan kebimbangan mereka terhadap al-quran, adanya dominasi alquran terhadap akal, serta pengaruhnya terhadap kejiwaan.

Oleh karena itu, jika mereka sadar akan sebuah kebenaran dan jiwa mereka tenang, niscaya mereka akan berkesimpulan bahwa alqiran adalah seruan kepada kebenaran mutlak dan jeritan kejujuran. Alquran bersemayam di hati-hati orang berakal dan membawa mereka kepada keimanan

Utbah ibn Rabi’ah berkata kepada pemuka Quraisy, “Tidakkah aku berbicara kepada orang ini---maksudnya Muhammada-----untuk membujuknya dengan beberapa penawaran, agar ia mau menerima dan berhenti berdakwah? “kemudian mereka menyetujui pendapat Utbah ini. Lalu, ia menyampaikan beberapa penawaran, antara lain mengangkatnya menjadi raja Quraisy, atau kaum Quraisy mengumpulkan harta-harta mereka  untuknya sehingga Beliau menjadi orang terkaya. Atau, ia menawarkan untuk memilih satu wanita cantik dari kalangan Quraisy.

Mendapat tantangan demikian, Rasullullah saw menjawan, “apakah engkau telah selesai wahai Aba-al Walid (julukan Utbah)? Maka dengarkanlah aku!” Lantas, beliau membaca surat Fushshilat hingga sampai ayat: “Jika mereka menyombongkan diri, maka mereka (malaikat) yang di sisi Tuhanmu bertasbih kepada-Nya di malam dan siang hari, sedang mereka tidak jemu-jemu.” (QS. Fushshilat:38).

 Dan ketika beliau sampai pada bacaan firman Allah, “Jika mereka berpaling maka katakanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud,” tiba-tiba Utbah memegang mulutnya, memohon agar beliay tidak melanjutkan pembicaraanya. Orang ini ketakutan akan siksaan ditimpakan pada mereka.

            Kemudian Beliau berkata kepadanya, “Apakah engkau telah mendengarkannya wahai Aba-al-Walid?” Ia menjawab, “Ya, aku telah mendengarkannya.”

Begitu ia kembali kepada kaummnya di sebuah kedai, sebagian mereka , “Abu al-Walid datang dengan raut wajah yang berbeda ketika ia pergi.” Lalu, mereka bertanya padanya, :Apa yang terjadi padamu?” Ia menjawab, “Demi Allaj, aku telah mendengar perkataan yang sama sekali belum aku dengar. Demi Allah, perkataan itu bukanlah syair, bukan pula sihir dan bukan pula perkataan dukun. Wahai masyarakat Quraisy taatilah aku, dan biarkanlah orang itu (yakni, Muhammad saw) dengan ucapannya, Maka demi Allah perkataannya adalah sebuah berita.

Kemudian, ia menceritakan ketika beliau sampai pada ayat; “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti yang menimpa kaum Aad dan kaum Tsamud”, ia memegang mulutnya dan memohonnya untuk berhenti. Lalu, ia berkata kepada kaummnya, “sungguh kalian mengetahui bahwa Muhammad tidak berdusta, Maka, aku takut akan siksaan yang ditimpakan kepada kalian.”

Inilah ringkasan hikayat Imam Baihaqi, yang mengisyaratkan bahwa permusuhan pemuka Quraisy ini kepada Muhammad saw. Tidak menghalanginya untuk meniadakan al-quran dari unsur sihir, syair, dan perkataan dukun. Ini menunjukkan bahwa yang mereka ucapkan adalah keliru, dan mereka tidak menyakini cacian mereka sendiir terhadap al-Quran.

            PARA SAHABAT, KELUARGA DAN TABIIN.

Rasullullah Muhammad Saw, membawa agama Islam bukan sendiri, namun ada sahabat yang selalu setia di sisinya. Para sahabat seiring bahu dan seayun langkah dalam menegakkan kalimatul hak. Allah Swt, menyifati para sahabat Rasullullah sawa bahwa mereka bersikap keras terhadap orang-orang kafir dan saling menaruh kasih sayang sesama mereka. Ini seperti yang ditekankan dalam firman Allah, “mereka bersikap lemah lembut terhadp orang-orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir,”

Sifat ini wajib direalisasikan pada sesama orang-orang mukmin. Mereka harus bersikap keras atau bengis terhadap para musuh Islam. Hendaknya mereka (orang-orang mukmin) dalam satu ikatan, satu hati, satu perasaan dalam bersikap dan menghadapi orang-orang kafir. Hendaknya mereka saling mencintai dan saling menyanyangi di antara mereka.

Hendaknya kaum Muslimin, kini, menyadari bahwa kalaulah bukan karena kaum Salafussaleh bersikap keras terhadap orang kafir dan sikap saling menyayangi sesama mereka, maka Islam ini tidak akan mulia, dan tidak akan mampu mengalahkan agama-agama lain, serta mampu menguasai dunia ini.

Bersikap damai dan halus terhadap musuh-musuh Islam hanya akan merugikan kaum Muslimin sendiri. Selain itu, kehilangan sikap saling menyayangi di antara kaum Muslimin, akan melepaskan ikatan, memporak-porandakan kesatuan, melamahkan posisi mereka, dan memberikan jalan musuh untuk menguasai mereka (kaum muslimin).

Untuk mengenal para sahabat seperti Ali bin Abi Thalin, Umar Bin Khattan, Saidina Abubakar, Usman Bin Affan, kita perlu mengkaji juga sifat serta jiwa patriotisme yang melekat di dalam diri mereka. Seperti jujur, amanah, berani, dan tulus ikhlas dalam berkorban mempertahankan serta memperjuangkan agama Islam.

Bahkan mereka berkorban nyawa, dalam beberapa kali mengikuti perang bersama Rasullullah saw. Para sahabat Rasulullah bukan sembarangang orang. Mereka merupakan orang-orang pilihan, meski pada awalnya banyak kisah para sahabat adalah orang-orang yang tergolong ke dalam jiwa besar seperti Umar.

Namun, para sahabat merupakan manusia pilihan yang sudah dijamin surga oleh Allah swt. Dengan demikian, para sahabat tak boleh dilupakan oleh umat Islam hari ini. Seyogia para sahabat adalah belahan jiwa Rasulullah dalam menegakkan agama Islam berdiri tegak di muka bumi ini. Salah seorang sahabat yaitu Usman Bin Affan mengembankan amanah yang sangat berat dengan memperjuangkan harta kekayaan umat Islam.

Selain itu perjuangan para sahabat diikuti oleh istri dan anak-anak mereka, pengikut setia hingga para tabiin. Tak jarang, mereka saling mengikatkan agar tali silaturahmi semakin erat antara keduanya. Sikap tarahum (saling menyayangi) antar Muslim dapat teralisasikan melalui sikap saling mencintai, seperti mencintai diri sendiri, menjaga kehormatan tetangganya, turut bergembira di kala saudaranya mendapat kenikmatan, menolongnya di kala mendapatkan kesulitan, serta memberi salam dan berjabat tangan ketika bertemu. Tentang pentingnya salam ini, Allah swt menjadikannya penutup shalat.

            WAFAT NABI MUHAMMAD

Wafat Rasul Islam Muhammad (570 – 632) disebabkan oleh demam tinggi di usianya yang ke-62 tahun, yang dia alami selama beberapa bulan setelah kepulangannya dari Mekkah untuk melaksanakan ibadah Haji pertama dan terakhirnya. Di dalam ibadah Haji tersebut terdapat sebuah khotbah terkenal yang disampaikan oleh Muhammad, yakni Khotbah Perpisahan, di dalamnya berisi perintah dan larangan dari Allah. Untuk yang terakhir kalinya, Muhammad mendapatkan wahyu melalui Malaikat Jibril pada tahun 632 yakni Surah Al-Ma'idah ayat 3 yang menyatakan bahwa Tuhan telah meridhai Islam sebagai agama Muhammad dan sebagai agama yang sempurna dan disempurnakan, serta pernyataan bahwa nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan kepada Muhammad telah dicukupkan.

Peristiwa tersebut terjadi dalam kejadian yang disebut Haji Perpisahan (Haji Wada'). Sebelumnya Muhammad telah menaklukan seluruh Semenanjung Arabia, dan menjadikannya sebagai negara di bawah pengaruh Islam. Berkat adanya Pertempuran Hunain dan Ekspedisi Tabuk, Muhammad memperoleh kejayaannya dan memindahkan agama Semenanjung Arabia dari Yahudi, Nasrani, dan Pagan menjadi Islam.

Wafatnya Muhammad terjadi hari Senin, 8 Juni 632 atau 12 Rabiul Awwal 10 H di rumah istrinya, Aisyah binti Abu Bakar, di kamar Aisyah, yang kini menjadi makam Muhammad. Kini makam Muhammad termasuk kedalam Masjid Nabawi, tepatnya dibawah naungan Kubah Hijau, sebuah ikon yang menjadi ciri khas Masjid Nabawi.

Muhammad memberikan dua petunjuk yang dijadikan pedoman bagi manusia untuk selama-lamanya, yakni Al-Qur'an dan Hadits – ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad – kini digunakan sebagai petunjuk bagi umat Muslim. Muhammad dimakamkan di kamar Aisyah, kemudian didampingkan bersama kuburan Abu Bakar dan Umar bin Khattab di sisi makam Muhammad.

Setelah kematian Muhammad, pemerintahan Islam dilanjutkan oleh Empat Sahabatnya, yaitu Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib sebagai Khulafa'ur Rasyidin. Dua diantara mereka – Abu Bakar dan Umar bin Khattab – dimakamkan di samping makam Muhammad, masing-masing tahun 634 dan 644 M.

ISLAM SETELAH WAFAT NABI MUHAMMAD

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, begitulah takdir. Ketika Tuhan berkehendak semua tak ada yang mustahil baginya. Laksananya janjinya dengan Muhammad bahwa Islam setelah Muhammad tiada akan terpecah.

Al Hadist menyebutkan: "Demi Tuhan yang menguasai jiwa Muhammad, sungguh umatku nanti akan pecah menjadi 73 golongan, satu masuk surga dan yang 72 golongan akan masuk neraka,..." (H.R Imam Thabrani). (kompasiana).

Namun, sejarah panjang itu sempat bangkit kembali di tanah Persia. Yang dipelopori oleh seorang Raja bernama Raja Muzaffar, dan Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin terkenal karena memukul mundur Tentara Salib dan menaklukkan kembali Yerusalem. Dia mengalahkan dan menghancurkan sejumlah besar Tentara Salib dalam Pertempuran Hattin yang menentukan pada bulan Juli 1187. Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Saladin menaklukkan hampir setiap kota Tentara Salib. Setelah pengepungan, Yerusalem diserahkan kepadanya pada bulan Oktober tahun yang sama. Upaya selanjutnya oleh Tentara Salib untuk memenangkan kembali Yerusalem ditentang sampai mereka akhirnya menyerah dan mundur ke rumah.

Seperti dikutip dari situs Why Islam, Salahuddin Ayyubi, yang dikenal di Barat sebagai Saladin, adalah seorang pemimpin Muslim yang berani dan brilian selama abad ke - 12 . Landasannya yang kokoh dalam agama dan nilai-nilai utamanya, yang mengarah pada komitmennya pada tujuan Islam, memungkinkannya mencapai hal-hal besar.

Kekaisaran Ayyubiyahnya menyatukan Mesir dan Suriah. Di atas segalanya, ia memainkan peran penting dalam membalikkan arus melawan Tentara Salib dengan berhasil merebut kembali Yerusalem dan mendapatkan nama untuk dirinya sendiri dalam sejarah Muslim dan Barat.

ISLAM RAHMATAN LILALAMIN

Islam merupakan agama rahmatan lilalamin, yang memberikan perlindungan untuk semua pemeluknya. Tak ada kecuali, bahwa persatuan umat Islam sangat kuat. Sehingga Islam dituding oleh barat sebagai agama radikalis, ekstremisme dan lain sebagainya.

Segala macam bentuk fitnah menyebar terhadap umat, Islam. Namun kekuatan dan persatuan umat islam tak dapat dipungkuri lagi. Beberapa tokoh islam terkemuka, seperti Saddam Husain, Osama Bin Laden, Muammar Qadhafi, menjadi suatu keniscayaan atas provokasi terhadapnya.

Padahal, sejatinya keberaniaan dan kekuatan yang digadang oleh pemimpin Islam merupakan suatu tindakan nyata, berlandaskan keputusan dan ketentuan yang berlaku dalam ajaran Islam. Namun, kehadiran mereka dipengaruhi oleh ideologi demokrasi yang mendunia, sehingga idealis islam yang berkembang dalam peradaban dunia modern tergerus.

Seperti diketahui sejak lahirnya agama Islam, yang dibawa oleh Muhammad SAW, seluruh sendi-sendi kehidupan di ARAB pecah, bahkan Nabi Muhammad SAW, sempat menjadi musuh bebuyutan sanak keluarganya, yang membuat ia terpaksa berhijrah ke Madinah.

Meski demikian, sebagaimana perintah Allah Swt, Nabi Muhammad mensyiarkan Islam dengan perlahan dan lemah lembut. Itu merupakan suatu bukti nyata bahwa ajaran Islam tidak pernah sedikit pun mengajarkan kekerasan.

Lantas kenapa ada kelompok terorisme?

Itu pertanyaan yang sangat absurd. Tapi, ya jawabannya adalah karena membela harga diri itu merupakan kewajiban seorang manusia. Orang islam haram mati terjajah, karena mati dengan membela diri adalah mati syahid, dan mendapat surga di sisi Allah Swt.

Ada beberapa hal yang sangat lebih penting, bagi pemeluk agama Islam. Menurut hemat saya, beranjak dari sejarah, pengalaman dan pengetahuan yang pernah saya kaji di pesantren adalah keutamaan seorang Islam bukanlah terletak pada sifat melawan saja, meskipun itu merupakan kewajiban seorang muslim apabila sudah tertindas. Namun, yang lebih penting bagi seorang pemeluk agama Islam ialah dengan mempelajari ilmu pengetahuan Islam.

Dalam islam ilmu pengetahuan sangatlah penting, walau lebih tinggi daripada adab. Kepentingan ilmu pengetahuan islam seperti Ilmu Tauhid, Fiqh, dan Tasawuf bertujuan untuk membentuk kepribadian seorang muslim yang sejati. Bukan mukmin sejati, tapi syarat sahnya seseorang  dalam agama islam.

Dalam ketiga ilmu tersebut, sebut saja misalnya tauhid. Ilmu tauhid akan mengenalkan kita akan Tuhan yang satu, tuhan yang kita sembah yakni Allah Swt.  Di dalam ilmu tauhid kita diajarkan mengenal sifat-sifat tuhan, keberadaan tuhan dalam diri manusia, juga segala ketentuan hakikat yang mesti dikenal terlebih dahulu sebelum memeluk agama Islam. Nah, di sini penting jangan sampai tersesat dalam ketauhidan.

Kemudian ilmu fiqah, dalam ilmu fiqah segala keterangan tatacara beribadah kepada Allah, seperti diajarkan bersuci, dan cara menunaikan segala kepentingan ibadah lainnya. Begitupula dengan hal-hal sunnah terkait dengan hal berubudiyah pada Allah Swt.

Ada pun di samping itu, adalah mempelajari ilmu tasawuf, bahkan dari ketiga macam ilmu pengetahuan antaranya, ini salah satu yang sangat penting. Karena ilmu tasawuf mencakup segala adab dan akhlak manusia, sesuai dengan tujuan daripada Islam itu sendiri. Yaitu diturunkan Muhammad Saw hanyalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Disebabkan pada waktu itu negeri Aran dan semenanjung Timur Tengah telah terjadi kejahilan dan kebodohan dan ketimpangan-ketimpangan lainnya. Hampir sebagian penduduk Arab telah melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan.

Tanpa mempelajari ilmu tasawuf, tidak lengkap rasanya ilmu lain yang kita ketahui untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena tasawuf penghulu segala ilmu.

Dengan demikian, apabila kita sudah memiliki ketiga macam ilmu tersebut, maka dengan mudahnya kita dapat menjalani kehidupan di dunia ini. Karena segala ketentuan aspek kehidupan akan terarah saat kita menjalaninya. Ketiga ilmu pengetahuan Islam tersebut dapat ditemukan dalam pengikut setia Ahlussunanah Waljamaah.[]

 

            Sumber : Buku Percikan Cahya Ilahi

            Penulis : Prof. Musthafa Muhammad ath-Thair.

 

 

0 Response to "Pengertian Islam dan Latar Belakang"

Posting Komentar